We Are…

We Are, atau Qt Adalah…

Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang slalu qt tanyakan kepada diri qt sendiri, yang mungkin seumur hidup tetap akan sulit terjawab…

Tapi dengan seiring berjalannya waktu, dan mungkin saat qt menua, meskipun qt tak pernah bisa menjawabnya, namun mungkin pada akhirnya qt bisa memahaminya…

Seperti film WE ARE, atau judul dalam bahasa Japan-nya adalah Ao No Kaerimichi.

Berkisah tentang persahabatan 7 anak SMU yang akan memasuki akhir masa sekolah.

Persahabatan antara 3 perempuan & 4 laki-laki. Dimana salah satu dari mereka sudah jadi couple, tapi mereka berdua tetap sayang dengan teman-temannya yang lain.

Serta 2 orang pencinta musik, yang sebenarnya saling suka, tapi lebih memilih ‘berteman’ saja.

Di awal film, dibuka dengan kebersamaan mereka yang terasa sangat ‘anak muda’.

Bebas, idealis, dan penuh mimpi…

Seperti poster film-nya, 7 anak SMA yang bersepeda melewati jalan dengan tawa bahagia di masa remaja mereka…

Mereka ber-7 ngumpul untuk merayakan hari ulang tahun salah satu dari mereka, Tatsuo.

Bernyanyi bersama, tertawa bersama, serasa saat itu adalah saat yang paling bahagia.

Apalagi mereka akan lulus SMA. Yang artinya, terasa ada kebanggaan dalam diri bahwa mereka akan melepas masa remaja menuju dewasa.

Lantas, apakah menjadi dewasa memang sesuatu yang benar membanggakan???

Awalnya, mungkin YA…

Namun pada kenyataannya???

Yeah, kehidupan nyata tak slalu berjalan sesuai impian…

Dan di sinilah cerita bermula. Dimana kebahagiaan yang dibayangkan di depan mata, justru menjadi bumerang yang menjukirbalikkan hidup mereka sendiri…

Aq sebenarnya sudah menduga. Alur film yang dimulai dengan tawa bahagia di awal, biasanya justru berjalan dengan kebalikannya…

Meskipun aq tetap sangat terharu dengan persahabatan mereka ber-7. Seolah mereka benar-benar seperti saudara.

Apalagi mereka tinggal di kota kecil, yang masyarakatnya biasanya saling kenal satu sama lain. Jadi orang tua mereka juga saling kenal…

Setelah lulus, 3 orang pergi ke Tokyo.

Kana yang mencoba berkarier di dunia musik, dan Kiri yang menjadi manajernya. Sedangkan Yuki, satu-satunya yang melanjutkan kuliah.

Lainnya, tetap tinggal di kampung halaman mereka, di kota kecil Maebashi.

Si couple Mariko & Kota, menikah karena MBA. Meskipun mereka bisa dibilang tak merasa terpaksa, alias hepi-hepi aja nikah muda.

Ryo bekerja jadi kuli bangunan.

Dan Tatsuo tetap berusaha belajar untuk ikut tes kedokteran…

Bapak-nya Tatsuo adalah satu-satunya dokter di kota itu. Mungkin itu sebab-nya, Tatsuo seperti ‘terpaksa’ untuk ikut tes kedokteran.

Jauh di dalam hatinya, Tatsuo sebenarnya sangat tergila-gila dengan musik. Ia merasa sangat tertekan dengan kenyataan bahwa dunia musik adalah dunia yang tak diinginkan Bapak-nya πŸ₯Ί

Dan di sinilah qt akan melihat, betapa impian-impian mereka, ternyata tak semudah kenyataannya.

Waktu awal mereka berkumpul kembali di Tokyo, untuk menonton Kana tampil di acara konser musik kecil, rasanya terasa sangat menyenangkan.

Dimana saat itu, idealis-idealis mereka masih terasa cerah.

Lucu juga waktu mereka semua nginap di apartemen yang sempit dimana Kana & Kiri tinggal.

3 perempuan & 4 laki-laki tidur bareng-bareng πŸ˜…

Eits, ini tidur dalam arti sebenarnya loch ya. Jangan mikir aneh-aneh 🀣

Jadi numplek gitu, pokoknya yang penting bisa tidur πŸ˜…

Itulah arti sahabat sesungguhnya 😊

Waktupun pun berjalan…

Kana yang ingin mencoba karier musiknya agar lebih berkembang, ternyata malah ‘terjebak’ sebagai model iklan cewek berkostum wortel. Yeah, hanya model iklan.

Musik ciptaannya, seperti hanya terkubur bersama impiannya.

Kana memang jadi idol. Sering tampil di tv, dan wajah ‘si gadis wortel’ terpampang di papan reklame besar.

Tapi bukan itu tujuan awal dia datang ke Tokyo.

Dan dia merasa sangat tidak bahagia…

Begitupun Kiri.

Awalnya dia ikut ke Tokyo karena ingin belajar fotografi. Tapi ternyata malah fokus jadi manajer Kana.

Tentu saja sebenarnya dia tetap merasa bahagia. Hanya saja, Kiri memiliki pacar penipu, yang menghabiskan uang tabungannya, plus hobi mukulin dia.

Tapi anehnya, Kiri tetap sangat mencintai pacarnya.

Disitu aq merasa bogeng. WTF?!! πŸ™„

Yuki, mungkin berhasil saat kuliah. Tapi, sekali lagi, dunia kuliah adalah dunia yang sangat jauh berbeda dari dunia kerja.

Yuki memang mendapat pekerjaan, sebagai karyawan asuransi.

Dan aq gak perlu jelaskan, karena qlian semua pasti tahu, betapa beratnya yang dijalani Yuki…

Lain lagi dengan Ryo, si cowok bebas.

Aq sebenarnya agak kecewa dengan apa yang dilakukannya.

Ryo ketahuan mencuri barang di tempat dia kerja. Padahal boss-nya adalah orang baik. Dia bahkan tidak marah, dan hanya memecat Ryo.

Tapi mungkin itu bukan pekerjaan yang cocok untuk Ryo. Ryo akhirnya ikut menyusul ke Tokyo, dan mencoba mencari pekerjaan di sana.

Ada momen lucu saat Ryo tiba di Tokyo. Karena gak punya tempat tinggal, Ryo numpang nginap di apartemen Kana.

Ya, Kana ini cewek loh πŸ˜…

Tapi mungkin karena Kana menganggap Ryo adalah sahabatnya, jadi Kana Ok-Ok saja.

Benarkah begitu?

Biar gimana, laki perempuan, hanya berdua dalam satu kamar, amboiii… πŸ˜…

Pada akhirnya, Ryo tertarik juga sebagai laki-laki yang normal. Tapi Kana menolaknya mentah-mentah πŸ˜…

Kana tetap setia akan ‘cinta’nya kepada Tatsuo. Meskipun mereka tak pernah pacaran πŸ™„

Dan inilah yang sepertinya mengubah hidup Ryo. Ryo jadi punya semangat dan tujuan akan masa depan.

Apa itu?

Ryo mulai serius bekerja, agar bisa membeli House Live untuk Kana mewujudkan impian-nya.

So sweet bgt yach… πŸ₯°

Sayangnya, sampai akhir pun, cinta Ryo tak berbalas. Kana tak bisa melupakan Tatsuo πŸ₯Ί

Hanya Mariko & Kota, yang bisa dibilang hidupnya lebih bahagia daripada yang lain.

Meskipun mereka gak bisa mengejar impian seperti yang lain, karena ‘dipaksa’ jadi orang tua di usia muda.

Tapi mereka berdua-lah yang jadi cepat dewasa dan berani mengambil tanggung jawab untuk masa depan…

Bagaimana dengan Tatsuo???

4 tahun berlalu…

Tatsuo tetap tak bisa melepas musik dari hidupnya, dan slalu gagal dalam tes kedokteran.

Ia stuck di tempat. Di kampung halaman, jauh dari teman-temannya.

Tatsuo seperti ‘terjebak’ dalam masa SMA-nya. Dia slalu terkenang-kenang masa lalu saat masih bersama teman-temannya, di saat semua teman-temannya justru berusaha melangkah maju.

Sedih bgt saat Tatsuo memandang foto-foto mereka ber-7 di masa SMA.

Sambil membayangkan suara teman-temannya memanggil namanya, Tatsuo meneteskan air mata terakhirnya…

Hidup memang terkadang kezam…

Persahabatan mereka teruji, saat kabar duka datang,

Tatsuo meninggal dunia…

Berita yang sangat memukul teman-temannya.

Dan bisa dibilang, akhirnya memecah persahabatan mereka… πŸ₯Ί

Mariko & Kota masih bisa bersikap dewasa. Meskipun sedih, apalagi mereka-lah satu-satunya yang masih berada di kota itu.

Tapi hidup harus tetap berlanjut…

Ryo terlihat lebih dewasa. Dia juga memilih untuk melanjutkan hidup.

Ryo bisa dibilang sukses dalam pekerjaannya. Dan dia masih tetap mencintai Kana, meskipun hanya sebagai sahabat…

Yuki masih tetap di Tokyo. Hidupnya mulai terasa berat.

Dan dia mulai merasakan rasa putus asa yang sangat, yang mungkin inilah yang dirasakan Tatsuo sebelum dia ‘pergi’…

Kiri tak lagi menjadi manajer Kana, karena Kana merasa impiannya hancur semenjak jadi model iklan gadis wortel.

Dengan tabungan yang sudah dikuras pacarnya, akhirnya ia memilih untuk kembali ke kampung halamannya. Kembali ‘menumpang’ hidup dengan ibunya…

Bagaimana dengan Kana???

Semenjak kepergian Tatsuo, Kana menjadi hancur. Ia merasa, Tatsuo pergi karena kesalahannya.

Ia mulai kecanduan alkohol. Dan hidupnya makin menderita, karena impiannya untuk jadi penyanyi, kini tinggal kenangan.

Kana tak bisa lagi menyanyi, karena pita suaranya yang rusak akibat alkohol…

Dan akhir hidup yang dipilih Kana, adalah bundir…

Sedih bgt… 😭

Syukurlah, nyawa Kana sempat tertolong. Ryo datang tepat waktu. Bahkan Ryo mendonorkan darahnya untuk Kana yang banyak kehabisan darah…

Oh Ryo, rasa sayangnya sebagai sahabat, mengalahkan rasa sedihnya karena cinta yang tak berbalas.

Baginya, kebahagiaan Kana-lah yang terpenting.

Ryo bahkan menghajar habis ex-produser Kana. Karena dia-lah yang ‘mengubur’ kesempatan Kana untuk menjadi penyanyi, dan bahkan mencuri lagu ciptaan Tatsuo & Kana untuk dinyanyikan orang lain.

PUAASS BGT aq pas lihat tu produser bonyok-bonyok 🀣🀣🀣

Di akhir cerita,

10 tahun setelah mereka lulus SMA, akhirnya mereka ber-6 kembali berkumpul di kampung halaman mereka.

Berdoa untuk 6 tahun kepergian Tatsuo…

Mereka ber-6 kembali melewati jalan yang sama, dimana mereka dulu pernah bersepeda bersama sambil tertawa bahagia membicarakan impian-impian mereka di masa muda.

Namun kini, jadi terasa sedih saat mengingatnya…

Pada akhirnya, impian hanya terlihat indah dalam mimpi…

Saat terbangun, qt akan kembali ke kehidupan nyata yang tak kan pernah seindah mimpi…

Slice of Life…

Film ini mengingatkan q akan diri q sendiri…

Bisa jadi, selama ini, aq hanya berdiri di persimpangan jalan, sama seperti Tatsuo.

Aq mungkin tak jatuh ke sungai, atau berguling di tanah.

Aq mungkin tak memilih jalan ke kiri, tapi juga tak memilih jalan ke kanan.

Aq mungkin sengaja menjauhi resiko, dan memilih zona aman.

Akhirnya…

Aq tak pernah melangkah maju, dan terkadang masih memandang ke belakang.

Aq masih mengenang sgala hal yang sudah berlalu, dan membiarkan impian-impian q melayang-melayang tanpa pernah q lepaskan pergi.

Aq terlalu egois untuk tidak mau mengubah hidup q, hanya karena aq merasa bahwa ‘semoga aq akan baik-baik saja’.

Tapi…

Aq tak slalu baik-baik saja…

Aq terkadang masih menangis…

Aq sering merasa sangat marah…

Ya…

Aq tak slalu baik-baik saja…

Pada akhirnya, aq hanya bisa membenci diri q sendiri…

Karena terus membiarkan impian-impian itu tetap ada, hingga meredup dimakan usia…

Awal tahun 2022,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s